Nun Wal Qolami Wama Yasturun Iqro' Bismirobbikalla Resume Peraturan Presiden Tentang Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah Swakelola adalah cara memperoleh barang/jasa yang dikerjak Teori Gamifikasi Definisi Gamifikasi Deterding dkk. (2011) menyata StatCounter. Menu Halaman Statis.
IPMJATIMOR.ID - Nuun Walqolami Wama Yasthurun, sudah barang tentu kalimat ini tidak asing lagi di telinga para kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di seluruh Indonesia. Sesuai dengan Anggaran Dasar pasal 5, kutipan Surat Al-Qolam ayat 1 ini merupakan semboyan gerakan IPM yang juga ditampilkan dalam lambangnya yang segilima itu.
Assalamualaikumwr wb.Abstrac Kaligrafi Poles menggunakan busa kasurUntuk rekan2 pecinta kaligrafi yg ingin belajar kaligrafi tapi binggun mau mulai dari man
cash. Oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar kitab tafsir Isyari, penciptaan alam raya sering dihubungkan dengan titik di bawah huruf ba dan sumpah pertama Allah dalam Alquran, yaitu ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ "Nun wa al-Qalam wa ma yasthurun." Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis/QS al-Qalam [68] 1. Kebanyakan ulama tafsir menafsirkan nun dengan ikan yang pernah menyelamatkan Nabi Yunus yang dibuang di tengah laut. Pendapat ini didasarkan pada ayat وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ "Dan ingatlah kisah Zun Nun Yunus, ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya menyulitkannya, maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap 'Bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." QS al-Anbiya'[21] 87. Kata Zan Nun sering diartikan sebagai 'pemilik Nun, ikan yang meyelamatkan Nabi Yunus. Huruf nun juga biasa ditafsirkan dengan makna semiotik, yaitu huruf nun semacam botol tinta, bisa juga dengan tinta atau dawat midad lalu dihubungkan dengan kalam atau pena al-qalam sebagai pena penciptaan, dan apa yang dituliskannya wa ma yasthurun sebagai lembaran suci. Al-Razi dalam tafsirnya, Tafsir al-Kabir, menyebutkan sebuah riwayat bahwa huruf nun ialah huruf akhir dari al-Rahman. Kata wa ma yasthurun dalam ayat tersebut ialah Lembaran yang Terpelihara al-Lauh al-Mahfudh, yang di dalamnya ter can tum peristiwa apa pun yang ter jadi di langit dan di bumi. Sedangkan, pena al-qalam dimaknai sebagai benda pertama yang Allah ciptakan, sesuai dengan riwayat yang disampaikan oleh Ibn 'Abbas. Ibn 'Abbas berkata, "Yang paling pertama Allah ciptakan ialah pena kalam, kemudian Ia memerintahkan tulislah apa-apa yang terjadi sampai hari kiamat, maka terjadilah apa yang terjadi hingga hari kebangkitan dari ajal sampai perbuatan. Ia berkata, 'Itulah pena yang bercahaya yang panjangnya antara bumi dan langit.'" Segitiga antara tinta, pena, dan lembaran menarik perhatian Ibn Arabi yang sangat tertarik dengan angka tiga. Ibn Arabi menghubungkan implikasi yang dan yin dengan pena al-qalam dan lembaran wa ma yasthurun. Dalam konsep Taoisme kepercayaan Tiongkok kuno dikenal ada dua macam Tao. Ada Tao yang tak bisa dinamai secred of the secred dan Tao yang bisa dinamai. Konsep ini mengingatkan kita kepada konsep al-Ahadiyyah dan al-Wahidiyyah dalam kosmologi Islam. Tao yang bisa dinamai mempunyai dua kualitas nama, yaitu yang dan yin. Yang melambangkan kualitas maskulin dan yin melambangkan kualitas feminin. Dalam kosmologi Islam, yang dapat dihubungkan dengan kualitas Jalaliyyah dan /yin dihubungkan dengan kualitas Jamaliyyah. Dua kualitas itu menuntut adanya keseimbangan di dalam menjalani kehidupan ini. Dari sinilah hubungan erat antara kosmologi Islam dan kosmologi Cina. Pena dilambangkan sebagai lelaki yang memiliki sifat-sifat dominan maskulin. Sedangkan, lembaran dilambangkan sebagai perempuan yang memiliki sifat-sifat dominan feminin. Keduanya kawin-mawin dan produktif. Pena mengeluarkan atau menurunkan tintanya dan lembaran menampung tinta itu dalam bentuk tulisan. Sama dengan laki-laki yang mengalami orgasme, menurunkan spermanya ke rahim istri, lalu lahirlah anakanak manusia sebagai anak-anak mikrokosmos. sumber Harian RepublikaBACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini
Kalimat Nuuun wal qolami wama yasthurun diambil dari kata yang suka-suka di kerumahtanggaan Al Alquran, adalah piagam Al Qolam ayat 01 yang artine merupakan “Demi pena dan apa yang mereka tuliskan”, terus segala apa tho maknane dari kata ayat di atas..??? Ehm… Ehm… tafsiranne kurang lebih bagaikan berikut… Suka-suka interpretasi yang menyatakan bahwa “Nun” adalah nama sebangsa ikan segara di laut senamgsa Ikan paus yang mengangkangi Rasul Yunus. Penafsiran ini dikuatkan maka itu ayat 87 pecah surat An Nabiya’ yang menyebut Rasul Yusuf dengan Zan Nun. Ada pula tafsiran lain nan mengatakan bahwa persumpahan dengan huruf Nun ini jauh lebih luas dari semata – mata lauk menelan Nabi Yunus. Menurut riwayat itu Nun ialah nama seekor ikan osean nan berdiam di lapisan mayapada yang ke sapta nan paling bawah. Selanjutnya cak semau yang mnefsirkan di atas lauk Nun itu ada dinding yang tebal, setelah tujuh petala langit dan petala bumi. Di atas diniding, di punggung ikan itu berdirilah seekor sapi yang punya tanduk dan di telapak sapi itu itu terletaklah marcapada kita ini ketujuh lapisannya. Ada pula tafsiran lain yang mengatakan bahwa bumi kita ini terletak di salah satu ujung sumbu badak yang itu Riwayat yang lain lagi berasal anak laki-laki Abbas diikuti penafsiran oleh ad-Dahhak, Al Hasan dan Qatadah; arti Nuuun merupakan dakwat atau dawat. Sengaja kita salin tafsiran2 ini cak bagi memafhumi mengapa masih cak semau orang yang beriman bahwa bumi kita ini terletak di ujung tanduk lembu dan lembu redup di jejak kaki ikan nun..!!! Takdirnya terjadi gempa manjapada adalah karena lembu itu menggerakan kepalanya. Tentang mengubah Huruf Nun dengan Lauk Nun yang menelan Nabi Yunus, kalau kita pikirkan dengan seksama tidaklah dapat diterima jika dibandingkan dengan ayat2 yang selanjutnya. Nan isinya yaitu memuji kemulian karakter Rasul Muhammad, iya tidak sindikat..??? Telah terang banget bahwa Nabi Yunus ditelan makanya Ikan Nun alias Paus adalah beberapa perian lamanya ialah suatu peringatan kepada sorang Nabi Allah bernama Yunus yang berkecil hati melihat kekafiran kaumnya, sangat Beliau meninggalkan tugasnya. Tidaklah sepan pertama peringatan kepada Nabi Muhammad merupakan Ikan Nun yang menelan Nabi Yunus karena Nabi Muhammad tidaklah kekeluargaan sepemakan pula meninggalkan dakwah terlebih cangap mengahadapi tugasnya dengan hati tabah, walaupun bukan main hebat kepiluan yang akan Sira telan. Akan halnya Qolam atau disebut sekali lagi pena nan diambil menjadi sumpah utama oleh Tuhan dipermulaan surat terserah ypula yangmengatakan bahwa yang mula2 diciptakan makanya Tuhan pecah makhluk-Nya ini enggak lain ialah Qolam. Disebutkan pula bahwa bahwa panjang Qolam adalah itu merupakan sejauh di antara langit dan bumi dan dia tercipta semenjak NUR artinya kirana. Dalam tafsirannya itu dikatakan bahwa Tuhan memrintahkan kepada Qolam ketimbang Nur itu agar ia terus menerus menulis, lalu dituliskannyalah apa yang terjadi dan segala apa yang ada ini baik ajal alias amal ragam. Naah dengan alasan itu boleh jadi Bapak2 kita di Muhammadiyah suntuk nan cak hendak mendirikan IPM pertama kali adalah Siswa2 Muhammadiyah yang semakin lama semakin cepat perkembangannnya yang ditandai dari urut-urutan yang pesat bersumber sekolah2 eigendom Muhammadiyah baik kualitasnya atau kuantitasnya cak hendak agar IPM bisa menjadi perisai siswa2 yang khususnya sekolah di Perguruan Muhammadiyah pecah pengaruh asing yang membohongi di waktu dahulu. Dan cak bagi zaman waktu ini mungkin kembali Bapak2 Muhammadiyah dulu kepingin IPM menjadi 3P yaitu Otak, Pelangsung dan Penyempurna dari manuver Muhammadiyah ini maupun NKRI dengan menulis. Subhanallah sungguh mulia ya kawan niatan Bapak2 qt dulu… Ehm saat ini tugas kita gimana ya kawan, mau melanjutkan perjuangan ini..??? Tentu mau khan, Insya Allah akan datang jasa2 qt digantikan makanya Allah di Yaumul pengunci belakang hari. Amiin… Tradisikan untuk membaca dan menulis ya persekutuan dagang…!!! Dengan menggambar kita bisa dikenal dan lebih lagi kita bisa berbenda dengan menulis, selain itu kita juga boleh menjaga Agama kita, Sekolah kita, Muhammadiyah kita dan IPM kita sebaiknya tetap dapat hidup selamnya. Amiin…. ^_^ Allahuakbar…!!!! Wallahu alam…. Mata air Tafsir Al Ahzar Prof. Dr Hamka Juz 29 Penerbit PT Pustaka Panjimas Jakarta
Post Views 8,683 – Nuun Walqolami Wama Yasthurun, sudah barang tentu kalimat ini tidak asing lagi di telinga para kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah IPM di seluruh Indonesia. Sesuai dengan Anggaran Dasar pasal 5, kutipan Surat Al-Qolam ayat 1 ini merupakan semboyan gerakan IPM yang juga ditampilkan dalam lambangnya yang segilima itu. Ini adalah ayat sakti yang akan selalu menutup rangkaian pidato pimpinan dan kegiatan IPM dimanapun dan kapanpun. Lalu apakah pemilihan ayat ini juga sudah dibarengi dengan pengimplikasiannya dalam setiap gerakan dan aksi nyata IPM? IPM sebagai salah satu OKP yang bergerak di kalangan pelajar dan remaja mulai dari tingkat SLTP hingga Perguruan Tinggi bahkan lebih telah dengan jelas dan terang memilih ayat 1 dari Surat Al-Qolam sebagai semboyan gerakannya, Nuun Demi Pena dan Apa yang Mereka Tulis. Ayat ini merupakan satu dari sekian ayat keilmuan yang ada dalam Al-Qur’an. Sebuah ayat yang mewakili keilmuan dengan dua kata utamanya yakni pena dan tulis. Hal ini tidak bisa dianggap sepele dan main-main saja, asal pilih saja, kelihatan bagus dan cocok diambil saja. Kenapa? Karena yang dipilih adalah Kalamullah yang harus dipertanggung jawabkan. IPM saya rasa akan memiliki masalah dengan Allah-Sang pemilik sejati ayat ini, apabila dalam berbagai segmentasi gerakannya tidak mengamalkan semboyan yang telah dipilih. Terlebih bila dalam berbagai level kepemimpinannya tidak memahami dan apalagi tidak menjiwai semboyan ini. Bahkan IPM akan bisa dicap sebagai pihak yang melakukan kejahatan ayat’ apabila surat Al-Qolam ayat 1 ini hanya berhenti sebagai semboyan dan hiasan lambang saja. Tidak ada cara lain selain dengan sungguh-sungguh menjadikan spirit Al-Qolam sebagai ruh gerakan. Spirit Al-Qolam harus selalu hadir dalam setiap denyut nadi dan nafas pergerakan IPM. IPM harus siap mendengungkan capaian-capaian keilmuan di seluruh tingkatan levelnya, maka IPM akan mampu menjadi pelopor dan pemimpin peradaban keilmuan di kalangan pelajar dan remaja. Atau jika tidak, barangkali saya boleh berpendapat semboyan itu kita ganti saja dengan lafadz Basmallah, Hamdallah atau Innalillah sekalian. Karena ini adalah tugas berjama’ah untuk yang mengaku sebagai pimpinan, kader, anggota ataupun simpatisan IPM, ini bukan hanya menjadi tanggung jawab Pimpinan Pusat sebagai pucuk pimpinan IPM. Selanjutnya penulis akan sampaikan simpulan dari penjelasan makna surat Al-Qolam ayat 1 yang disarikan dari buku Nun Tafsir Gerakan Al-Qolam karya Azaki Khoirudin. Jadi ayat semboyan ini terbagi menjadi 3 bagian, yakni 1 Nun; 2 Wal Qolami; dan 3 Wamaa Yasthurun. Pertama, Nuun, sebagai perwujudan ilmu tidak hanya penyatuan, tetapi juga ketersaling-hubungan antara tauhid dengan pengetahuan, antara wahyu dan akal. Melalui makna Nun seakan Allah memerintahkan “Iqra’ Bismi Robbika Alladzi Khalaq”. Nun, bacalah, galilah segala sumber ilmu, risetlah segala apa yang telah diciptakan oleh Allah di alam semesta ini. tetapi jangan lupa harus bersandarkan Tauhid. Kedua, Wal Qolami, qalam adalah isyarat kepada kita untuk membaca dan menulis. Karena banyak manfaat yang akan diperoleh dengan membaca dan menulis. Syaratnya disertai nama Tuhan untuk mencapai keridhoan Allah. Dengan qalam, orang dapat menyampaikan berita suka atau duka kepada keluarga dan teman-teman akrabnya serta dapat mencerdaskan dan mendidik bangsanya menjadi yang berperadaban dan berkebudayaan tinggi. Ketiga, Wama Yasthurun, ini adalah pelengkap dari dua hal yang telah tersebut lebih dahulu. Terlepas dari siapa mereka’ yang dirujuk dalam ayat ini untuk menulis, yang jelas Wama Yasthurun adalah yang dapat dibaca. Seakan Allah kembali menegaskan the power of reading and writing, dan menjadi buah pena para ahli pengetahuan. Dalam istilah keilmuan filsafat, Nuun bisa dianggap sebagai dimensi Ontologis yaitu fakta nyata atas pengetahuan, Wal Qolami sebagai dimensi Epistemologis yaitu sumber pengetahuan dan Wama Yasthurun sebagai dimensi Aksiologis yaitu aksi atau bukti nyata dari pengetahuan. Jelas terlihat dari uraian di atas, kira-kira apa intensi dari pemilihan ayat 1 surat Al-Qolam sebagai semboyan resmi IPM. Para pendahulu menginginkan kader penerusnya nanti bisa menjiwai spirit Al-Qolam. Yaitu spirit untuk senantiasa membaca, menulis, meriset, mengkaji dan sejenisnya. Saat ini IPM memiliki 4 pilar utama gerakan, yaitu Literasi, Ekologi, Kewirausahaan dan Pendampingan. Yang sudah jelas-jelas sangat cocok dengan semboyan IPM adalah Pelajar berliterasi, pelajar literat. Meskipun yang tiga lainnya itu pun bisa saja kita sambungkan dengan kegiatan berliterasi, karena sejatinya literasi itu bukan hanya membaca dan menulis yang termaktub dalam lembaran-lembaran atau digital. Pasti saat mendengar kata literasi, yang teringat di pikiran kita hanyalah menulis atau membaca. Memang benar literasi dikaitkan dengan bacaan, tulisan dan yang pasti dengan ke-aksara-an. Awalnya literasi digunakan untuk menunjukkan kemampuan untuk bercakap-cakap dan keterampilan hidup. Tapi, kini literasi dipahami sebagai konsep mengolah informasi dan memahami bahan baca tulis yang merupakan kemampuan dasar dan modal utama bagi generasi muda dalam belajar dan menghadapi tantangan masa depan. Sekarang ini banyak sekali anak yang mengaku mempunyai hobi membaca atau menulis sebagai bagian dari literasi. Tapi menurut saya, hal itu adalah suatu kebutuhan bagi pelajar dan masyarakat pada umumnya. Karena kalau hanya sekedar hobi, melakukannya saat waktu luang saja, tidak di segala waktu. Tapi kalau kita menganggapnya sebagai kebutuhan, kita akan selalu membutuhkannya, selalu menantinya dan selalu mengerjakannya. Dan bila tidak mendapatkan kebutuhan kita tersebut, maka akan merasakan ada yang kurang atau hilang dalam diri kita. Dengan kebutuhan membaca itu pula, kita bisa berimajinasi atau merancang langkah kita untuk menghadapi masa depan. Sedangkan hakikat literasi di masa modern ini adalah menggunakan dan mengolah informasi untuk mengembangkan pengetahuan. Semua hal bisa kita jadikan bahan literasi, dengan mengkaji keadaan sekitar, menonton film bahkan mendengarkan musik bisa menjadi kegiatan literasi. Tergantung pada individunya, itulah mindset yang harus kita bangun, semua adalah ilmu dan bisa kita ambil hikmahnya. Jadi kita harus bisa menyeimbangkan antara ngaji dan kaji, pengajian dan pengkajian harus balance tanpa ada dikotomi. Barulah setelah itu karya raya, karya-karya besar akan dapat kita hasilkan. Saat ini pun, literasi semakin banyak digencarkan oleh beberapa kalangan dan di beberapa lokasi. Tidak lupa pula, organisasi tercinta IPM juga sedang menggalakan gerakan literasi di kalangan pelajar dan remaja yang memang sudah seharusnya dilakukan sebagai implikasi penggunaan Al-Qolam ayat 1 sebagai semboyan dalam lambang yang segilima itu. Sebenarnya IPM sudah lama menggalakkan gerakan literasi, seperti dengan gerakan iqro’-nya yang bisa menguatkan pilar keilmuan di IPM dan di Persyarikatan Muhammadiyah. Selain itu, IPM juga mempunyai majalah pelajar tertua di Indonesia yang bernama “Kuntum”. Majalah ini adalah salah satu prestasi yang membanggakan dalam perkembangan literasi yang sudah diakui oleh masyarakat luas. Maka tidak sulit sejatinya untuk IPM ber-literasi, karena pondasi dasarnya sudah kita bangun, tinggal kita sempurnakan dan kembangkan saja kedepannya. Setelah sekian lama mengaku bersemboyan Nuun Wal Qolami Wama Yasthurun, IPM pun baru-baru saja juga menggerakkan Pelajar Berkemajuan, tepatnya mulai Muktamar XVIII di Palembang dan semakin terdengar pada Muktamar-Muktamar selanjutnya. Gerakan literasi yang mulai menggaung ini, diharapkan tidak menguap di tingkat atas saja, tapi juga bisa sampai ke tingkat bawah. Dengan gerakan literasinya, IPM sebagai ortom Muhammadiyah bisa mendukung untuk mewujudkan pandangan Indonesia Berkemajuan, khususnya di kalangan pelajar dan remaja. Harapan kami, pasca mulai menggaungnya IPM berliterasi atau Pelajar Literat ini, semua kader dan anggota IPM di seluruh Indonesia terkhusus di Jawa Timur bisa menyuarakan satu suara yakni pengawalan gerakan literasi, tentunya dalam ranah garapan masing-masing tingkatan dan menjadikannya program berkelanjutan yang tidak jalan ditempat saja. Gerakan Pelajar Literat ini juga diharapkan menjadi gerakan identik dan khas dari tubuh organisasi IPM dalam mewujudkan terbentuknya pelajar muslim yang sebenar-benarnya alias berkemajuan. Sebagai ikhtiar akan pandangan Indonesia Berkemajuan yang sebenar-benarnya, Muhammadiyah dan IPM harus menunjukkan daya kreatifnya untuk menjadi pelopor pejihad literasi di Indonesia. Karena berbagai manfaat dapat diraih dengan gerakan literasi khususnya membaca dan menulis seperti yang paling utama adalah kita bisa meningkatkan daya saing generasi muda Indonesia di antara negara-negara lain. Terakhir, sekali lagi jangan sampai Al-Qolam ayat 1 hanya menjadi intensi yang dibesar-besarkan saja tapi tidak terwujud dalam realita nyatanya. Semboyan Nuun, Wal Qolami Wama Yasthurun adalah akar semangat IPM dalam ber-Organisasi dan berliterasi yang tidak akan pernah pudar dan tidak akan pernah selesai untuk dikaji dan dijalankan oleh seluruh elemen pergerakan IPM. Semoga segala ikhtiar kita dicatat dan dilaporkan oleh Raqib sebagai amal kebajikan. Salam Pelajar Literat!!! Salam Pelajar Karya Raya!!! Nuun Walqolami Wama Yasthurun Oleh Rifqy Naufan Alkatiri Ketua Umum PD IPM Kota Batu periode 2019-2021
nun walqolami wama yasturun artinya